Praktek

All Blog Post

Kamis, 26 Agustus 2010

Puitis Abist

Saat tanganku bisa aku gerakkan
Tak ada yang tak dapat aku tulis
Saat penaku menyentuh kertas ini
Aku tak perlu berkhayal
Tentang apa yang harus aku tulis

Mentari datang menyambut kesepian
Embun bertetesan diujung dedaunan
Pagi ini saat langit tersentuh
Aku mulai membukakan mata, menengadahkan muka
Bergerak beraturan bangun tergaduh

 Kilauan sinar tergores di jendela
Memetik detik-detik jarum waktu
Membukakan telingaku yang tersedak
Diramtai sisa-sisa kegelapan

Pelan terarah kutulis kata-kata
Semisal sebuah janji atas apa
Gejolak hati dari bara yang tertanda
Saat diri dan jiwaku terasa hampa

Keindahan mulai berjatuhan diawal
Akhir ceritanya takkan kuizinkan bertahta
Seindsah apapun jalan tertempuh didalamnya
Maafkan bila aku tak berjeda

Seribu bintang yang telah jatuh
Takkan mungkin dapat merubah
Perasaan cinta yang telah tertanam
Wangi bunga yang telah kau taburkan
Di taman terindah, kini telah bersemi dan menyentuh

Mengertilah....Kau kan selalu tersenyum
Seiring lantunan syair menyentuh indah wajahmu
Saat kau tak disampingku....
Yakinkanlah bahwa :...
Aku selalu ada untukmu.....

Hilangkan perbedaan antar kita
Seperti terangnya sinaran dijiwa
Salam naluri untuk saling memiliki

Rindukan aku.........
Kenamglah kedamaian saat kita bersama
Biarkan gundah bersahaja mememanimu untuk sesaat
Seperti indahnya langit yang meneteskan bahasa kesejukan
Dari warna cerah pada lengkungan didalamnya

Angin terhanyut tiupkan nada
Susul sang waktu yang terdiam
Salahkan apa yang kau lihat
Lakukan apa saja bila semua khayal
Tak bisa diselesaikan dengan segala laku
Aku akan menundukan muka
Bila hasrat menjadi tak nyata

Akhirnya....
Sepuitis apapun tulisan ini
Masih seperti apa yang telah aku ungkapkan
Kemarin atau lain hari datangnya
Kau tetap saja mempesona
Bunga yang menjatuhkan air di kelopaknya

Ciamis, 30 Maret 2003

Tidak ada komentar:

Posting Komentar